Sunday, September 29, 2013

7 Alasan Untuk Mencela Diri Sendiri--Gibran

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku :



Pertama

Ketika aku melihatnya lemah padahal seharusnya dia bisa kuat.



Kedua

Ketika melihatnya berjalan terpincang – pincang di hadapan seorang yang lumpuh.



Ketiga

Ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan yang mudah, ia memilih yang mudah.



Keempat

Ketika ia melakukan kesalahan, dan menghibur diri dengan mengatakan bahwa semua orang juga melakukan kesalahan



Kelima

Ketika ia menghindar karena takut ia mengatakannya sebagai sabar.



Keenam

Ketika ia mengejek kepada sebentuk wajah buruk, padahal ia tahu bahwa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering kali ia kenakan.



Dan ketujuh

Ketika ia menyanyikan lagu pujian, dan menganggap itu sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Stop Mencintai Apa Adanya


Taken from my old blog...pls enjoy

Cinta sejati adalah cinta tak bersyarat, saat di mana kamu bisa menerima pasangan apa adanya. Kalo orang barat sana bilang, "You don't have to change a hair".

Maaf untuk para true love believers yang semacam itu, saya termasuk yang percaya bahwa cinta selalu bersyarat. Bagaimana mungkin dua kepala, dua cara pandang, dua pengalaman, disatukan tanpa adanya benturan dalam proses pencarian bentuk yang mengakomodasi kedua belah pihak. Cinta dalam tataran tertinggi pun masih berembel-embel surga, neraka, atau minimal ridho.

Proses penyatuan bisa berlangsung dengan keras dan menyakitkan, mungkin juga halus tanpa paksaan.

Seperti akulturasi.Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Asimilasi (sosial), bercampurnya 2 kebudayaan dalam masyarakat setempat (contoh : dalam satu negara atau dalam satu keluarga), sehingga tercipta suatu budaya baru.

Menurut saya cinta yang menerima apa adanya, tanpa syarat, hanyalah cinta yang tidak memiliki. Yang kita cintai tidak perlu berubah, karena memang tidak perlu menyatu dengan kita.

Ada tulisan bagus dari salah seorang blogger yang tulisan-tulisannya inspiratif menurut saya.



Berhenti mencintai ku apa ada nya

kamu bisa berarti lebih dari sekedar mencintai ku apa adanya

apaguna nya cinta mu kalau tidak membawaku terbang tinggi, terus bermimpi dan menggapai gapainya

Aku butuh laki2 yang mencambukku saat aku berhenti berlari,

aku butuh laki2 yang me-nina bobo-kan aku supaya aku bisa terus bermimpi,

lalu membangunkan ku untuk mengkaji mimpi mimpi dan mengkalkulasi perwujudan nya..



aku butuh laki2 yang mau membeli dunia bersama ku,

yang tak gentar mendengar bualan ku,

yang mengusap mukaku selesai berdoa, bukan nya mendoakan dibelakang ku,

melengkapi kalimat kalimat ku, bukan memotong atau menyepelekan nya,

mengkoreksi gangguan jiwa ku, bukan mencarikan dokter,

menggandeng aku di jalan yang berliku, bukan meluruskan jalan ku..



jika kau cuma laki2 yang menerima aku apa adanya, untuk apa ada kamu?

dengan pun tanpamu toh tidak ada bedanya, aku tetap begini..

Berhenti mencintai ku apa adanya..



aku membutuhkan mu lebih dari itu,

lebih dari sekedar melengkapi

aku membutuhkan mu untuk membantu ku melewati batas kemampuan ku,

mendengar apa yang memekakkan ku,

membantu ku melihat apa yang membutakan ku,

membantu ku mencapai apa yang tak tangan ku sampai

mengejar apa yang tak mampu kakiku kejar..

merasakan apa yang hati ku tak peka..



aku membutuhkan mu lebih dari sekedar laki2 yang mencintaiku apa ada nya...

Selamat Tinggal Romansa!

Perempuan muda bertank-top hijau itu kembali berlari, tidak ia hiraukan kucuran keringat yang mengalir deras di kedua pelipisnya. Sudah satu jam ia berlari diatas mesin treadmill yang angka-angka digital dibagian kiri membentuk 7.0

waktu merambat begitu cepat. Imajinya berlari kencang. Begitu picisan

Ia rindu romansa, rindu petang yang indah dengan sandal jepit dan lingkaran tangan tangan kekar dibahunya, ia rindu saat-saat mengantri mesin anjungan tunai mandiri dengan satu bungkus snack bertitel “smax” rasa keju, ia rindu saat-saat dimana ia diperhatikan, ia rindu saat dimana ia ditemani, bermanja, menyusuri pelosok kota dengan liar, ia rindu pagi ceria, membuka pintu lalu menatap wajah penuh semangat yang mengajaknya lari pagi, ia rindu saat ia begitu merasa dicintai, ia rindu saat menghabiskan waktu berdua, bukan bertiga, berempat, atau berenam.

Ia rindu saat-saat saling menatap penuh rasa, membuncahkan segenap rasa di dada, ia rindu sosok itu, sosok romantis, ceria, perhatian, setia, polos, ia rindu lagu the moldy peach yang khusus didedikasikan untuknya dengan tidak tahu malu pada malam api unggun, ia rindu tatapan iri orang-orang ketika mereka jalan bersama, saat-saat dimana ia begitu merasa dicintai.

Mungkin kesendirian adalah harga yang harus ia bayar atas semua keangkuhannya. Tuhan sudah menggariskan bahwa akan ada ganjaran yang setimpal atas seluruh benih yang ditanam.Untuk satu yang tercampak akan muncul satu hujan untuk yang dzalim.






Ia kembali berlari, angka 7.0 sudah berganti dengan 11.00 nafasnya sudah memburu ke segala penjuru. Peluh yang bercampur dengan airmatanya seakan berteriak:

Selamat tinggal romansa. semoga kamu temukan yang terbaik!

Menemukan Diri Kembali


Menulis adalah proses menemukan diri..

Sudah beberapa jeda aku tak bisa menarikan jari-jari ini di atas tuts abu-abu putih, seakan sebagian diri ini sudah hilang ditelan kelam. Siapa sangka hidup akan menggiringku ke dalam jurang yang tidak bisa terdefinisikan terjalnya.

Aku berdarah untuk menemukan diriku sendiri.
Siapa sangka?

Dan kini aku kembali menulis. Kembali mencoba menemukan diri sendiri.

Selamat Datang diriku yang baru!