Perempuan muda bertank-top hijau itu kembali berlari, tidak ia hiraukan
kucuran keringat yang mengalir deras di kedua pelipisnya. Sudah satu jam
ia berlari diatas mesin treadmill yang angka-angka digital dibagian
kiri membentuk 7.0
waktu merambat begitu cepat. Imajinya berlari kencang. Begitu picisan
Ia
rindu romansa, rindu petang yang indah dengan sandal jepit dan
lingkaran tangan tangan kekar dibahunya, ia rindu saat-saat mengantri
mesin anjungan tunai mandiri dengan satu bungkus snack bertitel “smax”
rasa keju, ia rindu saat-saat dimana ia diperhatikan, ia rindu saat
dimana ia ditemani, bermanja, menyusuri pelosok kota dengan liar, ia
rindu pagi ceria, membuka pintu lalu menatap wajah penuh semangat yang
mengajaknya lari pagi, ia rindu saat ia begitu merasa dicintai, ia rindu
saat menghabiskan waktu berdua, bukan bertiga, berempat, atau berenam.
Ia
rindu saat-saat saling menatap penuh rasa, membuncahkan segenap rasa di
dada, ia rindu sosok itu, sosok romantis, ceria, perhatian, setia,
polos, ia rindu lagu the moldy peach yang khusus didedikasikan untuknya
dengan tidak tahu malu pada malam api unggun, ia rindu tatapan iri
orang-orang ketika mereka jalan bersama, saat-saat dimana ia begitu
merasa dicintai.
Mungkin kesendirian adalah harga yang harus ia bayar atas semua
keangkuhannya. Tuhan sudah menggariskan bahwa akan ada ganjaran yang
setimpal atas seluruh benih yang ditanam.Untuk satu yang tercampak akan muncul satu hujan untuk yang dzalim.
Ia kembali berlari, angka 7.0 sudah berganti dengan 11.00 nafasnya sudah memburu ke segala penjuru. Peluh yang bercampur dengan airmatanya seakan berteriak:
Selamat tinggal romansa. semoga kamu temukan yang terbaik!

No comments:
Post a Comment