Sunday, September 29, 2013

Selamat Tinggal Romansa!

Perempuan muda bertank-top hijau itu kembali berlari, tidak ia hiraukan kucuran keringat yang mengalir deras di kedua pelipisnya. Sudah satu jam ia berlari diatas mesin treadmill yang angka-angka digital dibagian kiri membentuk 7.0

waktu merambat begitu cepat. Imajinya berlari kencang. Begitu picisan

Ia rindu romansa, rindu petang yang indah dengan sandal jepit dan lingkaran tangan tangan kekar dibahunya, ia rindu saat-saat mengantri mesin anjungan tunai mandiri dengan satu bungkus snack bertitel “smax” rasa keju, ia rindu saat-saat dimana ia diperhatikan, ia rindu saat dimana ia ditemani, bermanja, menyusuri pelosok kota dengan liar, ia rindu pagi ceria, membuka pintu lalu menatap wajah penuh semangat yang mengajaknya lari pagi, ia rindu saat ia begitu merasa dicintai, ia rindu saat menghabiskan waktu berdua, bukan bertiga, berempat, atau berenam.

Ia rindu saat-saat saling menatap penuh rasa, membuncahkan segenap rasa di dada, ia rindu sosok itu, sosok romantis, ceria, perhatian, setia, polos, ia rindu lagu the moldy peach yang khusus didedikasikan untuknya dengan tidak tahu malu pada malam api unggun, ia rindu tatapan iri orang-orang ketika mereka jalan bersama, saat-saat dimana ia begitu merasa dicintai.

Mungkin kesendirian adalah harga yang harus ia bayar atas semua keangkuhannya. Tuhan sudah menggariskan bahwa akan ada ganjaran yang setimpal atas seluruh benih yang ditanam.Untuk satu yang tercampak akan muncul satu hujan untuk yang dzalim.






Ia kembali berlari, angka 7.0 sudah berganti dengan 11.00 nafasnya sudah memburu ke segala penjuru. Peluh yang bercampur dengan airmatanya seakan berteriak:

Selamat tinggal romansa. semoga kamu temukan yang terbaik!

No comments:

Post a Comment